Bahasa Indonesia
 
Buletin KWJ... (Vol.1/jan-08) PDF Print E-mail

 

なに .....

 

Nani da.....

Kajian Wilayah Jepang

Universitas Indonesia (KWJ UI)

 

 

http://kwj-ui.com/images//buletin%20online2.psd.jpg

 

 

 

Dua sampai tiga kali dalam setahun, Kajian Wilayah Jepang UI (KWJ-UI) bekerja sama dengan Japan Foundation, selalu mendatangkan dosen tamu dari Jepang. Kedatangan para dosen tamu yang berasal dari berbagai Universitas di Jepang merupakan salah satu program KWJ dalam rangka meningkatkan kualitas belajar para mahasiswanya.

 

Oktober 2007 lalu, KWJ UI baru saja mendatangkan Prof. Suzuki Iwayumi dari Universitas Tohoku, Sendai. Suzuki sensei, biasa beliau dipanggil, di undang sebagai dosen tamu untuk mengisi mata kuliah Kajian Agama dan Pemikiran Jepang.Suzuki sensei mengajar selama kurang lebih dua bulan di KWJ-UI tepatnya mulai tanggal 29 Oktober sampai dengan 19 November 2007. Dan disela-sela aktivitas mengajar di program pasca sarjana, beliau juga menyempatkan diri untuk memberi kuliah umum kepada mahasiswa Sastra Jepang S1 reguler di  FIB UI yaitu tentang bunuh diri dalam masyarakat Jepang alias Jisatsu. Kedatangan Suzuki Sensei tidak sendiri, beliau juga membawa istrinya Mrs. Suzuki Yuriko yang juga seorang dosen di Miyagi Gakuin Women’s University, Jepang.

Segala hal yang berbau budaya Jepang selalu menarik bagi para “Japanese holic”. Pada tanggal 13 dan 20 November 2007 lalu, KWJ-UI mengadakan kegiatan ‘Pelatihan Sado, Ikebana dan Kimono’ dengan Suzuki sensei sebagai pembicaranya. Suzuki sensei disini bukannya Prof. Suzuki Iwayumi lagi, tapi istri dari Prof Suzuki Iwayumi yakni Mrs. Yuriko Suzuki. Tapi yang namanya orang Jepang itu, biasanya kalo dia seorang istri maka ia biasa dipanggil dengan nama suaminya. So,..ke depan yang dimaksud suzuki Sensei adalah Mrs. Suzuki.

Perlengkapan untuk pelatihan ini seperti perlengkapan untuk Sado dan kimono, dibawa langsung oleh Suzuki sensei dari Jepang, sedangkan untuk Ikebana KWJ berkerjasama dengan Japan Foundation dimana Japan Foundation meminjamkan sebanyak 20 paket perlengkapan ikebana yang terdiri dari paku (kenzan), vas bunga (suiban) dan gunting tanamanan. Peserta pelatihan terbuka untuk karyawan dan mahasiswa UI. Animo para mahasiwa untuk mengikuti pelatihan tersebut cukup tinggi, terbukti dari limit peserta yang dibatasi hanya sebanyak 20 orang peserta, karena alat ikebana yang disediakan oleh panitia hanya cukup untuk 20 orang, namun dalam waktu beberapa hari saja setelah diumumkan peserta yang mendaftar sudah memenuhi kuota. Dan bahkan untuk hari kedua (tanggal 20 November) jumlah peserta mencapai dua kali lipat dari kuota yang ditetapkan yaitu sebanyak 40 orang.

 

Sadō..??,

nan desuka

(apakah itu) ??

Sadō (茶道,) adalah ritual tradisional Jepang dalam menyajikan teh untuk tamu. Pada zaman dulu disebut chatō (茶の湯 ) atau cha no yu.  Dalam pelatihan tersebut Suzuki sensei mempraktekkan langsung cara melakukan Sadō dengan memperlakukan semua peserta seolah-olah sebagai tamu-nya dan Suzuki sensei sebagai Tuan rumah.

Awalnya Suzuki sensei mencontohkan bagaimana meracik teh dengan menggunakan berbagai peralatan, seperti mangkuk untuk air buangan, sendok dari bambu, tempat teh, dan sebagainya. Semua proses peracikan teh tersebut dilakukan dengan penuh khidmat dan teratur sehingga terlihat indah dan menarik. Setelah selesai meracik teh dan mengisinya ke dalam mangkuk, kemudian teh tersebut diberikan kepada para tamu secara bergantian.

Saat meminum tehnya pun tidak sembarang dilakukan. Ada beberapa ritual yang harus dilakukan terlebih dahulu seperti misalnya tuan rumah mempersilahkan tamu memakan kue yang sudah disediakan, baru memberikan minum teh, dan tamu tersebut pun juga harus menawarkan teh tersebut ke orang yg duduk disebelahnya, dan seterusnya. Saat meminum pun kita tidak boleh meminum pada bagian yang ada gambar nya, sehingga mangkuk teh harus diputar ke arah kiri sebanyak dua kali sampai gambar tersebut tidak terlihat baru kemudian kita bisa meminum teh tersebut. Setelah itu mangkuk kembali diputar ke arah kanan sebanyak dua kali sampai gambar bunga di mangkuk tersbeut mengarah kepada kita dan tuan rumah. Semua peserta mengikuti dengan sangat antusias sampai selesai dan kemudian beralih ke pelatihan Ikebana.

Ikebana…,

Mungkin kata ini lebih familiar ditelinga kita,  dibandingkan dengan sado. Ikébana (生花Ikébana ) adalah seni merangkai bunga yang memanfaatkan berbagai jenis bunga, rumput-rumputan dan tanaman dengan tujuan untuk dinikmati keindahannya. Berbeda dengan seni merangkai bunga dari Barat yang bersifat dekoratif, Ikebana tidak mementingkan keindahan bunga tapi pada aspek pengaturannya menurut garis linier. Ada beberapa garis antara lain sin (しん), sou (そう), gyou (ぎょう), dou (どう), dan maedome (まえどめ). Masing – masing garis tersebut diwakili oleh satu jenis tanaman

Masing-masing peserta mulai berkreasi menurut selera masing-masing dengan mengikuti ketentuan seperti yang telah diberitahukan oleh Suzuki sensei, seperti misalnya dalam menentukan tanaman apa yang mewakili langit, tanaman apa yang mewakili bumi dan tanaman apa yang mewakili manusia.  Setelah semua peserta selesai melakukan ikebana, masing-masing berfoto disebelah hasil karya ikebana nya.

Dan yang terakhir, yang sangat dinantikan oleh para peserta adalah......jreng…jreng…jreng…#$%

Yaps, Kimono girls….

Kimono (着物), yang secara harafiah bermakna "sesuatu yang dikenakan seseorang," atau "pakaian") adalah pakaian tradisional masyarakat Jepang yang digunakan oleh wanita maupun pria. Bagi orang Jepang, kimono lebih dikenal dengan sebutan Wafuku (和服), yang secara harafiah bermakna "pakaian Jepang" atau Gofuku (呉服) yang secara harafiah bermakna "pakaian dari zaman Go di Tiongkok", untuk membedakannya dengan pakaian barat (Yofuku).

Memakai kimono ternyata tidaklah mudah, dan harus dibantu oleh orang lain. Suzuki sensei membantu para peserta yang ingin mencoba menggunakan kimono. Bahkan beliau sengaja membawa beberapa kimono yang ia miliki agar kita bisa mencobanya satu persatu.

Kimono yang dibawa oleh Suzuki Sensei adalah kimono untuk wanita. Kimono untuk wanita terdiri dari berbagai jenis yang semuanya sarat dengan simbolisme dan isyarat-isyarat terselubung. Pilihan jenis kimono tertentu bisa menunjukkan umur si pemakai, status perkawinan (masih lajang atau sudah menikah), dan tingkat formalitas dari acara yang dihadiri. Suzuki sensei membawa dua jenis kimono yaitu furisode dan yukata. Furisode adalah kimono formal untuk wanita muda yang belum menikah. Ciri khas Furisode pada bagian lengan yang sangat lebar dan menjuntai ke bawah. Bahan berwarna-warni cerah dengan motif mencolok di seluruh bagian. Yukata adalah jenis kimono santai yang dibuat dari bahan kain katun tipis tanpa pelapis yang dipakai untuk kesempatan santai di musim panas. Setelah masing-masing peserta mencoba mengenakan kimono, mereka berphoto dengan gayanya masing-masing.
 


http://kwj-ui.com/images/buletin%20online.psd.jpg
 

 

 Pelatihan Sado, ikebana dan kimono akhirnya berakhir dengan Happy Ending. Setiap peserta mendapatkan sertifikat yang ditandatangani oleh Bapak Sudung M Manurung yaitu sebagai ketua KWJ UI dan Ms. Suzuki Sensei sebagai pembicara, dan juga mendapat foto kegiatan saat mereka membuat ikebana dan menggunakan kimono. Pelatihan ini sangat berkesan baik bagi para peserta , panitia maupun Suzuki sensei sendiri. Banyak sharing knowledge yang terjadi dan para peserta juga banyak mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang berharga dari pelatihan tersebut.

So…jangan Lupa untuk selalu mengikuti kegiatan KWJ berikutnya…

 

 

 

Ja mata ne……Smile

(NS)


Last Updated ( Monday, 13 October 2008 )
 
 
Jajak Pendapat
Darimanakah anda mengetahui info mengenai website KWJ UI?
 
Tentang KWJ-UI
Info Beasiswa
Akademik
Berita Terbaru
Seremonia Terbaru
Artikel Terbaru
Multimedia
Statistik
We have 1 guest online

Total Hits: 80206

Unique Visitors: 15094

Login





Lost Password?
No account yet? Register